Showing posts with label recycling. Show all posts
Showing posts with label recycling. Show all posts

Saturday, August 10, 2013

Limbah Elektronik - Permasalahan Serius Saat ini

 Setiap hari rumah tangga kita menghasilkan sampah. Tapi, sadarkah Anda, bahwa di antara sampah non-organik yang kita hasilkan, terselip juga sampah elektronik?
Coba kita hitung, berapa banyak peralatan elektronik yang sudah tidak terpakai lagi tapi masih tersimpan di rumah. Mungkin berupa radio, kipas angin, kalkulator, pemutar DVD, televisi, komputer, pemutar MP3, atau bahkan ponsel-ponsel jadul yang sudah tidak layak pakai. Semua itu tersimpan atau terselip di antara barang-barang lain yang masih kita pakai sehari-hari.
Rumah tangga kita bukan satu-satunya. Di dunia diperkirakan ada sekitar 20 – 50 juga ton sampah elektronik per tahun. Amerika Serikat menjadi penghasil sampah terbanyak yakni 3 juta ton, disusul Cina dengan 2,3 juta ton. Masalahnya, ke mana lainnya limbah itu? Ada kenyataan mengejutkan bahwa 70% sampah itu dibuang ke negara miskin dan negara berkembang, Indonesia menjadi salah satunya.
Membuang sampah elektronik begitu saja ke tempat pembuangan sampah, jelas bukan tindakan bijak. Karena sampah semacam ini mengandung sekitar seribu material yang sebagian besar dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya (B3).. Ada unsur-unsur seperti logam berat (merkuri, timbel, kromium, kadmium, arsenik, dsb), PVC, dan brominated flame-retardants. Apabila di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah ditangani secara tidak tepat, akibatnya sungguh merugikan manusia dan lingkungan.
Jika sampah yang mengandung logam berat ini dibakar, akan muncul polusi udara (mengandung timbel) yang sangat berbahaya. Tumpukan sampah yang mengalami dekomposisi dan tercampur dengan air, juga dapat masuk ke tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah. Pencemaran yang diakibatkan oleh berbagai unsur ini akan merusak sistem saraf, mengganggu sistem peredaran darah, ginjal, perkembangan otak anak,  cacat bawaan, efek racun, alergi, sampai kerusakan DNA.
Dampak mengerikan itu bisa saja sampai ke kita juga. Seperti polybrominated biphennyls (PBB) dari sampah elektronik, begitu terlepas ke lingkungan akan masuk ke rantai makanan. Makhluk hidup yang ada di tanah atau perairan seperti hewan ternak dan hewan laut akan tercemar. Padahal, ada kemungkinan hewan tersebut akan dimasak, lalu tersaji di piring kita. Walau tersaji lezat, misalnya dengan bumbu saus padang, tetap saja ada unsur pencemarannya.
Mengamankan sampah elektronik di rumah bia dilakukan dengan cara mengumpulkannya di satu tempat. Misalnya di sebuah kardus atau kotak container plastik. Jangan sampai tidak terkontrol atau berserakan agar tidak terbuang begitu saja atua malah menjadi mainan dari anak-anak. Kita tidak bisa menjamin faktor keamanannya jika barang-barang semacam itu sampai di tangan anak-anak.
Solusi sementara, kita bisa menjual barang-barang elektronik kepada pedagang barang bekas, untuk dimanfaatkan kembali. Karenya nyatanya, sampah elektronik masih dapat dimanfaatkan kembali oleh kalangan tertentu. Kini pedagang barang bekas umumnya mencari barang yang spesifik, misalnya bekas komputer, televisi, atau ponsel. Bahkan jika jumlahnya cukup banyak mereka bersedia menjemput. Maka tak ada salahnya kita mengumpulkan secara kolektif dengan warga lain di lingkungan tempat tinggal
(www.intisari-online.com)

Ironi Pemilahan Sampah Akibat Salah Penanganan

Ini adalah cerita konyol dari seorang teman. Seperti diketahui, gagasan memilah sampah sudah lama diseminasikan maupun melalui berbagai testimony dan best practice di masyarakat yang menjadi bukti nyata bahwa persoalan sampah semakin krusial saja. Meski demikian, sebagian masyarakat masih terjebak dengan pengertian sampah itu sendiri. Sampah adalah sampah, alias tidak berguna sehingga harus dibuang. Sementara di laman Wikipedia disebutkan, sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.
Tapi apakah kita pernah menyadari bahwa sesungguhnya sesuatu yang dianggap sampah itu tidak pernah terbuang dalam pengertian yang sesungguhnya? Ini artinya adalah bahwa sampah sebenarnya masih disekitar kita, hanya berpindah tempat saja, misalnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), kecuali sampah yang dapat diurai oleh lingkungan.
Kembali ke persoalan pemilahan sampah. Jenis sampah berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu sampah organik (dapat diurai) dan sampak an organik (tidak dapat terurai). Gagasan pemilahan sampah dimulai dari sifat sampah ini. Pemilahan sampah mempunyai tujuan untuk mengurangi timbunan sampah melalui program 3R, yaitu Reduce, Reuse dan Recycle, yang merupakan langkah sederhana yang dimulai dari tiap-tiap rumahtangga. Pemilahan sampah dilakukan berdasar 2 sifat sampah tadi, menggunakan 2 wadah, dimana satu wadah untuk sampah organik dan satu wadah lagi untuk sampah an organik.
 Nhah, kembali ke cerita teman saya tadi, kesadaran yang diikuti tindakan pemilahan sudah berusaha dia lakukan. Sampah dari rumahnya dia pilah-pilah menjadi beberapa kategori, ada sampah organik, sampah kaleng, sampah plastik dan kaca serta sampah logam dan kemudian dia taruh dihalaman depan rumahnya di tempat biasanya petugas pemungut sampah mengambilnya. Tanpa diiringi kesadaran yang komprehensif tentang pemilahan sampah, Anda bakalan bisa menebak apa yang terjadi? Bruuukk, sampah-sampah hasil pilahan teman saya tadi ditumpahkan secara bersamaan ke dalam gerobak sampah. Alhasil, sampah itu kemudian berserakan dan bercampur lagi……… Oalah piye tho Pak…Pak…..kok sia-sia men…!
(dikutip dari www.kompasiana.com)

Cerita diatas memang adalah hal yang akan sering kita temui sehari-hari. Pemilahan sampah yang dikampanyekan oleh banyak orang dan organisasi akan menjadi sia-sia saja apabila ujung-ujungnya akan disatukan kembali saat truk sampah datang mengangkut sampah. Jadi bagaimana solusinya? Semua pihak harus memiliki kesadaran (not just kampanye dan slogan untuk mencari dukungan) tentang pengelolaan sampah ini. Terutama sampah-sampah dari mall, kantor, dan pabrik yang bisa saja mengandung salah satu bahan B3. Perlu penanganan lebih serius untuk mengatasi pemilahan ini!