Kami bergerak di bidang recyling, mendukung program Go Green, dan siap membantu penanganan sampah di perkantoran, pabrik, tempat hiburan, mall dll. Saat ini kami juga sedang mensupply kebutuhan minyak goreng bekas untuk bahan baku biodiesel. Kami meningkatkan nilai guna dari sampah yang masih bisa di re-use, recycle. Hubungi kami di Genesis - Recycling ( cp: Ilham Fajar +62-81295187186) dan Donny (+62-8122-4455479)
Showing posts with label recycling. Show all posts
Showing posts with label recycling. Show all posts
Saturday, August 24, 2013
GENESIS RECYCLING - BANDUNG: FORUM JUAL BELI BARANG BEKAS DAUR ULANG GENESIS RE...
GENESIS RECYCLING - BANDUNG: FORUM JUAL BELI BARANG BEKAS DAUR ULANG GENESIS RE...: PAGE KHUSUS JUAL BELI BARANG BEKAS DAUR ULANG Salam Green!! Buat teman-teman pelaku usaha bisnis barang bekas, recycle, daur ulang,...
Labels:
aluminium,
beli kardus,
besi bekas,
besi tua,
botol bekas,
daur ulang,
daur ulang kaca,
glass processing,
go green,
hemat energi,
limbah komputer,
pengelola sampah,
recycle,
recycling,
rongsok,
terima komputer rusak
Tuesday, August 13, 2013
GENESIS RECYCLING - BANDUNG: MEMANFAATKAN BOTOL BEKAS SEBAGAI PERANGKAP NYAMUK
GENESIS RECYCLING - BANDUNG: MEMANFAATKAN BOTOL BEKAS SEBAGAI PERANGKAP NYAMUK: Daur ulang tidak hanya menjadikan barang bekas menjadi barang yang menghasilkan uang atau dibisniskan. Daur ulang juga bisa dilaksanakan ...
Saturday, August 10, 2013
Limbah Elektronik - Permasalahan Serius Saat ini
Setiap hari rumah tangga kita menghasilkan sampah. Tapi, sadarkah
Anda, bahwa di antara sampah non-organik yang kita hasilkan, terselip
juga sampah elektronik?
Coba kita hitung, berapa banyak peralatan elektronik yang sudah tidak terpakai lagi tapi masih tersimpan di rumah. Mungkin berupa radio, kipas angin, kalkulator, pemutar DVD, televisi, komputer, pemutar MP3, atau bahkan ponsel-ponsel jadul yang sudah tidak layak pakai. Semua itu tersimpan atau terselip di antara barang-barang lain yang masih kita pakai sehari-hari.
Rumah tangga kita bukan satu-satunya. Di dunia diperkirakan ada sekitar 20 – 50 juga ton sampah elektronik per tahun. Amerika Serikat menjadi penghasil sampah terbanyak yakni 3 juta ton, disusul Cina dengan 2,3 juta ton. Masalahnya, ke mana lainnya limbah itu? Ada kenyataan mengejutkan bahwa 70% sampah itu dibuang ke negara miskin dan negara berkembang, Indonesia menjadi salah satunya.
Membuang sampah elektronik begitu saja ke tempat pembuangan sampah, jelas bukan tindakan bijak. Karena sampah semacam ini mengandung sekitar seribu material yang sebagian besar dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya (B3).. Ada unsur-unsur seperti logam berat (merkuri, timbel, kromium, kadmium, arsenik, dsb), PVC, dan brominated flame-retardants. Apabila di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah ditangani secara tidak tepat, akibatnya sungguh merugikan manusia dan lingkungan.
Jika sampah yang mengandung logam berat ini dibakar, akan muncul polusi udara (mengandung timbel) yang sangat berbahaya. Tumpukan sampah yang mengalami dekomposisi dan tercampur dengan air, juga dapat masuk ke tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah. Pencemaran yang diakibatkan oleh berbagai unsur ini akan merusak sistem saraf, mengganggu sistem peredaran darah, ginjal, perkembangan otak anak, cacat bawaan, efek racun, alergi, sampai kerusakan DNA.
Dampak mengerikan itu bisa saja sampai ke kita juga. Seperti polybrominated biphennyls (PBB) dari sampah elektronik, begitu terlepas ke lingkungan akan masuk ke rantai makanan. Makhluk hidup yang ada di tanah atau perairan seperti hewan ternak dan hewan laut akan tercemar. Padahal, ada kemungkinan hewan tersebut akan dimasak, lalu tersaji di piring kita. Walau tersaji lezat, misalnya dengan bumbu saus padang, tetap saja ada unsur pencemarannya.
Mengamankan sampah elektronik di rumah bia dilakukan dengan cara mengumpulkannya di satu tempat. Misalnya di sebuah kardus atau kotak container plastik. Jangan sampai tidak terkontrol atau berserakan agar tidak terbuang begitu saja atua malah menjadi mainan dari anak-anak. Kita tidak bisa menjamin faktor keamanannya jika barang-barang semacam itu sampai di tangan anak-anak.
Solusi sementara, kita bisa menjual barang-barang elektronik kepada pedagang barang bekas, untuk dimanfaatkan kembali. Karenya nyatanya, sampah elektronik masih dapat dimanfaatkan kembali oleh kalangan tertentu. Kini pedagang barang bekas umumnya mencari barang yang spesifik, misalnya bekas komputer, televisi, atau ponsel. Bahkan jika jumlahnya cukup banyak mereka bersedia menjemput. Maka tak ada salahnya kita mengumpulkan secara kolektif dengan warga lain di lingkungan tempat tinggal
(www.intisari-online.com)
Coba kita hitung, berapa banyak peralatan elektronik yang sudah tidak terpakai lagi tapi masih tersimpan di rumah. Mungkin berupa radio, kipas angin, kalkulator, pemutar DVD, televisi, komputer, pemutar MP3, atau bahkan ponsel-ponsel jadul yang sudah tidak layak pakai. Semua itu tersimpan atau terselip di antara barang-barang lain yang masih kita pakai sehari-hari.
Rumah tangga kita bukan satu-satunya. Di dunia diperkirakan ada sekitar 20 – 50 juga ton sampah elektronik per tahun. Amerika Serikat menjadi penghasil sampah terbanyak yakni 3 juta ton, disusul Cina dengan 2,3 juta ton. Masalahnya, ke mana lainnya limbah itu? Ada kenyataan mengejutkan bahwa 70% sampah itu dibuang ke negara miskin dan negara berkembang, Indonesia menjadi salah satunya.
Membuang sampah elektronik begitu saja ke tempat pembuangan sampah, jelas bukan tindakan bijak. Karena sampah semacam ini mengandung sekitar seribu material yang sebagian besar dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya (B3).. Ada unsur-unsur seperti logam berat (merkuri, timbel, kromium, kadmium, arsenik, dsb), PVC, dan brominated flame-retardants. Apabila di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah ditangani secara tidak tepat, akibatnya sungguh merugikan manusia dan lingkungan.
Jika sampah yang mengandung logam berat ini dibakar, akan muncul polusi udara (mengandung timbel) yang sangat berbahaya. Tumpukan sampah yang mengalami dekomposisi dan tercampur dengan air, juga dapat masuk ke tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah. Pencemaran yang diakibatkan oleh berbagai unsur ini akan merusak sistem saraf, mengganggu sistem peredaran darah, ginjal, perkembangan otak anak, cacat bawaan, efek racun, alergi, sampai kerusakan DNA.
Dampak mengerikan itu bisa saja sampai ke kita juga. Seperti polybrominated biphennyls (PBB) dari sampah elektronik, begitu terlepas ke lingkungan akan masuk ke rantai makanan. Makhluk hidup yang ada di tanah atau perairan seperti hewan ternak dan hewan laut akan tercemar. Padahal, ada kemungkinan hewan tersebut akan dimasak, lalu tersaji di piring kita. Walau tersaji lezat, misalnya dengan bumbu saus padang, tetap saja ada unsur pencemarannya.
Mengamankan sampah elektronik di rumah bia dilakukan dengan cara mengumpulkannya di satu tempat. Misalnya di sebuah kardus atau kotak container plastik. Jangan sampai tidak terkontrol atau berserakan agar tidak terbuang begitu saja atua malah menjadi mainan dari anak-anak. Kita tidak bisa menjamin faktor keamanannya jika barang-barang semacam itu sampai di tangan anak-anak.
Solusi sementara, kita bisa menjual barang-barang elektronik kepada pedagang barang bekas, untuk dimanfaatkan kembali. Karenya nyatanya, sampah elektronik masih dapat dimanfaatkan kembali oleh kalangan tertentu. Kini pedagang barang bekas umumnya mencari barang yang spesifik, misalnya bekas komputer, televisi, atau ponsel. Bahkan jika jumlahnya cukup banyak mereka bersedia menjemput. Maka tak ada salahnya kita mengumpulkan secara kolektif dengan warga lain di lingkungan tempat tinggal
(www.intisari-online.com)
Ironi Pemilahan Sampah Akibat Salah Penanganan
Ini adalah cerita konyol dari seorang teman. Seperti
diketahui, gagasan memilah sampah sudah lama diseminasikan maupun
melalui berbagai testimony dan best practice di
masyarakat yang menjadi bukti nyata bahwa persoalan sampah semakin
krusial saja. Meski demikian, sebagian masyarakat masih terjebak dengan
pengertian sampah itu sendiri. Sampah adalah sampah, alias tidak berguna
sehingga harus dibuang. Sementara di laman Wikipedia disebutkan, sampah merupakan material
sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah
didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam
proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya
produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut
berlangsung.
Tapi apakah kita pernah menyadari bahwa
sesungguhnya sesuatu yang dianggap sampah itu tidak pernah terbuang
dalam pengertian yang sesungguhnya? Ini artinya adalah bahwa sampah
sebenarnya masih disekitar kita, hanya berpindah tempat saja, misalnya
ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), kecuali sampah yang dapat diurai oleh
lingkungan.
Kembali ke persoalan pemilahan
sampah. Jenis sampah berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi 2 jenis,
yaitu sampah organik (dapat diurai) dan sampak an organik (tidak dapat
terurai). Gagasan pemilahan sampah dimulai dari sifat sampah ini.
Pemilahan sampah mempunyai tujuan untuk mengurangi timbunan sampah
melalui program 3R, yaitu Reduce, Reuse dan Recycle, yang merupakan
langkah sederhana yang dimulai dari tiap-tiap rumahtangga. Pemilahan
sampah dilakukan berdasar 2 sifat sampah tadi, menggunakan 2 wadah,
dimana satu wadah untuk sampah organik dan satu wadah lagi untuk sampah
an organik.
Nhah, kembali ke cerita teman saya tadi, kesadaran yang
diikuti tindakan pemilahan sudah berusaha dia lakukan. Sampah dari
rumahnya dia pilah-pilah menjadi beberapa kategori, ada sampah organik,
sampah kaleng, sampah plastik dan kaca serta sampah logam dan kemudian
dia taruh dihalaman depan rumahnya di tempat biasanya petugas pemungut
sampah mengambilnya. Tanpa diiringi kesadaran yang komprehensif tentang
pemilahan sampah, Anda bakalan bisa menebak apa yang terjadi? Bruuukk,
sampah-sampah hasil pilahan teman saya tadi ditumpahkan secara bersamaan
ke dalam gerobak sampah. Alhasil, sampah itu kemudian berserakan dan
bercampur lagi……… Oalah piye tho Pak…Pak…..kok sia-sia men…!
(dikutip dari www.kompasiana.com)
Cerita diatas memang adalah hal yang akan sering kita temui sehari-hari. Pemilahan sampah yang dikampanyekan oleh banyak orang dan organisasi akan menjadi sia-sia saja apabila ujung-ujungnya akan disatukan kembali saat truk sampah datang mengangkut sampah. Jadi bagaimana solusinya? Semua pihak harus memiliki kesadaran (not just kampanye dan slogan untuk mencari dukungan) tentang pengelolaan sampah ini. Terutama sampah-sampah dari mall, kantor, dan pabrik yang bisa saja mengandung salah satu bahan B3. Perlu penanganan lebih serius untuk mengatasi pemilahan ini!
Subscribe to:
Posts (Atom)
